Pages

Subscribe:
Angry Birds -  Help

Jumat, 08 Maret 2013

Jalan Menuju Keselamatan


Sengeti | PA Sengeti
“Setiap orang menghendaki keselamatan dan kesuksesan dalam hidup. Tiada seorang pun menginginkan kesengsaran dan penderitaan dalam hidupnya. Tidak heran, jika banyak orang Islam dalam berdoa selalu membaca do’a keselamatan dunia dan akhirat atau lebih dikenal do’a sapu jagad,” kata Ahsan Dawi mengawali pembinaan mental (bintal).
Acara bintal, Jum’at (04/05), diadakan di Mushola Pengadilan Agama (PA) Sengeti yang dihadiri seluruh pegawai mulai unsur pimpinan, hakim, kepaniteraan, kesekretariatan dan tidak ketinggalan para pegawai honorer.
Menurut Ahsan Dawi, ada tiga hal yang dapat mengantarkan manusia menuju jalan keselamatan dan kesuksesan hidup dunia dan akhirat.

Pertama, takut kepada Allah dalam keadaan sunyi maupun ramai. Ketika menjalankan sebuah tugas harus selalu diniati ibadah, rasa sepenuh hati, dan takut kepada Allah. Rasa takut kepada Allah bukan hanya ada ketika berada di masjid, mushola, majelis taklim atau dalam kegiatan keagamaan saja namun harus selalu ada di manapun manusia itu berada, dalam keadaan ramai maupun sepi.
“Jika seseorang senantiasa takut kepada Allah maka dalam berperilaku ia akan senantiasa jujur, misal dalam bekerja dan berumah tangga. Sekarang ini, jujur menjadi sesuatu yang sangat mahal,” ujarnya.
Kedua, hidup bersahaja (hemat) ketika miskin maupun kaya. Menjalani hidup dengan berbagai kebutuhan harus ada skala prioritas. Hidup sederhana perlu diterapkan, namun sederhana itu berbeda dengan pelit. “Janganlah mengukur orang lain untuk diri kita,” tegasnya.
Ketiga, bersikap adil ketika senang maupun marah. Dalam situasi dan kondisi apapun sikap adil harus tetap diterapkan, termasuk dalam menjalankan tugas. “Tentu, kita masih ingat asas equality before the law,” tandasnya.
Lebih lanjut, Ahsan Dawi mengemukakan ada tiga perkara yang dapat menjerumuskan manusia menuju kerusakan dan kesengsaraan hidup. Pertama, bersikap pelit atau kikir. Harus diingat bahwa dari harta yang dimiliki manusia, ada hak orang lain yang harus dikeluarkan lewat zakat, infaq, shodaqoh, dan sebagainya. Selanjutnya, ia mengingatkan bahwa jangan sampai menilai sebuah kekayaan itu hanya berupa harta.
Kedua, menuruti hawa nafsu. Nafsu ibarat seorang anak kecil, jika keinginan anak kecil terus dituruti maka akan semakin menjadi dan tentu tidak baik buat sang anak. Ketiga, suka membanggakan diri sendiri. Sikap riya’ ujub, takabur, bersikap keegoan, sombong, dan tidak menerima saran atau kritik adalah jalan menuju kehancuran.
Di akhir acara, Drs. Azwar, SH., MEI, Ketua PA Sengeti menegaskan bahwa apa yang disampaikan penceramah harus benar-benar diresapi dan dipraktekan dalam hidup. Setiap pekerjaan yang dilakukan harus dilandasi dengan niatan ibadah semata, bukan mencari penghormatan, pujian, ataupun takut pada atasan.
“Percayalah, suatu saat kita akan memperoleh suatu hasil yang tak terkira dari apa yang kita kerjakan secara ikhlas,” tandasnya. (alsyah).

http://badilag.net/berita-seputar-peradilan-agama/11033-pembinaan-mental-di-pa-sengeti-145.html

0 Komentar: