Pages

Subscribe:
Angry Birds -  Help

Senin, 03 Januari 2011

Paradigma hakim terhadap bagian waris anak laki-laki dan perempuan (sebuah penelitian)

Paradigma hakim terhadap bagian waris anak laki-laki dan perempuan
(sebuah penelitian)

Oleh: Ahsan Dawi Mansur

Pendahuluan
Penyelesaian perkara waris di pengadilan agama bersumber pada al-Qur’an, hadis, dan sumber hukum lainnya. Ayat-ayat al-Qur’an yang dijadikan rujukan - terutama mengenai bagian waris anak laki-laki dan perempuan - cenderung dipahami secara hitam-putih. Hal tersebut terlihat dari putusan yang dihasilkan selalu memberikan bagian kepada anak-laki-laki dua kali lebih besar dibanding anak perempuan, padahal hukum berkembang seiring dengan konteks sosial yang melingkupinya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap model pemahaman hakim dalam memahami bagian waris anak laki-laki dan perempuan dan alasan penggunaan model pemahaman tersebut karena persoalan tersebut terkesan diskriminatif terhadap perempuan. Kontribusi terhadap ilmu pengetahuan untuk memperkaya kajian tentang perempuan di dunia akademik yang dapat dijadikan landasan teoritis-empirik dalam mengungkap masalah hukum waris Islam, karena data-data hasil penelitian lapangan saat ini masih sedikit jika dibandingkan data-data hasil penelitian pustaka.



Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan sosiologis. Sample penelitian ini adalah sepuluh orang hakim Pengadilan Agama Yogyakarta, Bantul dan Wonosari, dengan teknik pengambilan sample judgemental/purposive sampling, berdasarkan kualifikasi senioritas, tingkat pendidikan dan jenis kelamin.
Penelitian ini telah menemukan bahwa mayoritas hakim menggunakan model pemahaman doktriner-normatif-deduktif dalam memahami bagian waris anak laki-laki dan perempuan. Model beripikir doktiner-normatif-deduktif yaitu suatu model berpikir yang mendasarkan segala aktivitas hidupnya pada al-Qur’an dan hadis yang dikenal sebagai sumber ajaran yang telah disepakati. Ayat-ayat al-Qur’an diterapkan sesuai bunyi teksnya dan terlepas dari setting sosial yang melingkupinya. Para hakim cenderung menggunakan model pemahaman ini karena dipengaruhi faktor tingkat pendidikan dan jenis kelamin. Tingkat pendidikan dan jenis kelamin mempunyai pengaruh yang siginifikan dalam memahami ayat tersebut. Sedangkan senioritas hakim ternyata tidak mempengaruhi pemahaman hakim terhadap ayat waris tentang bagian anak laki-laki dan perempuan.

bersambung....

Artikel Selengkapnya telah dimuat di www.badilag.net. Klik Disini

0 Komentar: